Metro – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Metro mengutus 10 kadernya menghadiri kongres HMI ke-30 yang digelar di Auditorium Universitas Pattimura Kota Ambon, Provinsi Maluku, Rabu (14/02/2018).
Ketua HMI Cabang Kota Metro Riki Sanjaya Alam diwakili Sekretarisnya M. Ridho Syahputra menerangkan, sebanyak 10 orang utusan tersebut dua di antaranya merupakan kader KOHATI.
“Kami berangkat dari Metro pada, Selasa (13/2/2018) subuh, bersama dengan kader HMI Bandar Lampung dan Kotabumi. Dari Metro sendiri ada 8 kader HMI dan 2 orang kader KOHATI yang turut serta ke Ambon, diantaranya Medi Aristian, Yuki Akbar, Windo Tarnando, Rama Muda SR, Hadi Saputra, Jhoni Riski F, dan dua kader Kohati Winda dan Tessa,” paparnya Ridho saat di konfirmasi tabikpun.com melalui WhatsApp, Sabtu (17/02/2018).
Dalam kongres yang juga dihadiri presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo tersebut, Ridho mengharapkan kongres dapat berjalan dengan baik.
“Point nya sih banyak, yang jelas harapan kami semoga forum kongres ini berjalan tepat waktu dan tidak timbul keributan seperti kongres sebelum-sebelumnya. Jika sampai timbul keributan akan jadi asumsi negatif bagi masyarakat khususnya warga Ambon tentang kader HMI,” tandasnya.
Dilansir dari Kompas.com, di depan kader HMI Presiden Joko Widodo mengungkapkan peran Indonesia dalam perdamaian dunia. Pertama, soal Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri yang terus memperjuangkan kemerdekaan Palestina atas Israel.
“Kita terus membantu perjuangan Palestina melawan penindasan dan ketidakadilan. Kita ingat, kita membuka konsulat kehormatan di Ramallah. Kita juga mendorong KTT di Istanbul untuk menentang pengakuan sepihak Amerika Serikat terhadap Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel,” ujar Jokowi, sebagaimana dikutip dari siaran pers resmi.
Kedua, Jokowi juga menjelaskan perhatian Pemerintah Indonesia terhadap etnis Rohingya, baik di Rakhine State, Myanmar, maupun yang mengungsi di Cox’s Bazar, Bangladesh.
“Januari 2018, saya berkunjung ke Sri Lanka, Pakistan, Bangladesh dan Afghanistan. Saya berkunjung ke Cox’s Bazar (lokasi pengungsi Rohingya). Itu kondisinya memprihatinkan. Saya adalah kepala negara pertama yang mengunjungi Cox’s Bazar,” lanjut Jokowi.
Atas konflik yang mengorbankan etnis Rohingya itu, Pemerintah Indonesia juga aktif melakukan diplomasi damai ke Pemerintah Myanmar.
Ketiga, Presiden juga menceritakan saat dirinya nekat melakukan kunjungan kenegaraan ke Afghanistan.
Padahal, serangkaian serangan bom melanda kota itu beberapa hari, bahkan beberapa jam sebelum Jokowi mendarat.
Kedatangannya ke Afghanistan, kata dia, membuktikan keseriusan dan komitmen Indonesia dalam mewujudkan perdamaian di sana.
“Kenapa saya tetap pergi ke Kabul (Ibu Kota Afghanistan)? Karena pentingnya persaudaraan serta persatuan,” lanjut Jokowi.
Jokowi menegaskan, konstitusi Indonesia mengamanatkan bahwa pemerintah tidak hanya berupaya memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga ikut mewujudkan ketertiban dan perdamaian dunia. (Ap)















Add Comment