Metro – Selama Covid-19 itu masih ada, selama itu juga kita harus betul-betul menerapkan protokol kesehatan. Pasalnya, Ria Riski Armania Putri, salah seorang jurnalis yang ada di Kota Metro Lampung ini tetap juga terpapar, meski dirinya sudah menerapkan prokes dengan baik.
Pada November 2020 lalu, saat kondisi kehamilannya menginjak delapan bulan, gejala awal Ria merasakan pusing dan mual. Lantaran hanya merasakan pusing dan mual, dirinya beranggapan penyakit biasa dan dianggapnya hal yang wajar mengingat dirinya sedang hamil. Namun, keesokan harinya, Ia merasakan demam tinggi selama 3 hari dan tak kunjung turun meski dirinya sudah minum obat penurun panas. Dari situlah dirinya menaruh curiga dan berinisiatif menjalankan rapid tes, alhasil dirinya dinyatakan positif terkena virus Covid-19.
Kebiasaannya meminum kopi Ia coba membuat dirinya tersugesti memulihkan badannya, namun sayang, kopi yang diminumnya tak membuat tubuhnya bugar dan pulih.
“Saya biasanya kalo sudah minum kopi badan saya kembali seger dan fit. Tapi tiba-tiba saya sadar bahwa kopi yang saya minum tak ada aromnya sama sekali, padahal aroma kopi kan sangat pekat,” katanya di Kantor DPRD Kota Metro, beberapa hari lalu.
Tidak percaya dengan apa yang Ria rasakan, jurnalis media harian cetak asal Yosodadi, Metro Timur itu mencoba menyium aroma berbagai benda yang bisa menimbulkan aroma pekat. Lagi-lagi, ia sama sekali tidak dapat merasakan apapun. “Semuaya terasa hambar saat itu,” cerita Ria.
Untuk mengantisipasi demi menyelamatkan keluarganya, ria bergagas menelpon suaminya menyuruh agar selalu patuhi protokol kesehatan yang ketat dan menerakan pola hidup sehat serta abaikan bersalaman dengan siapapun. Mengingat dirinya sedang terpapar Virus mematikan itu.
Hari ke lima, Ria menceritakan dirinya mencoba menjalani pemeriksaan ke salah satu puskesmas dan ternyata petugas puskes saat itu lagi ada praktek di luar, sehingga dialihkan ke puskes lain.
“Saya diantar suami dan anak untuk rapid untuk memastikan kondisi saya, ternyata hasilnya masih reaktif”, ujarnya.
Ria berpesan kepada siapa saja, ketika orang rapid test antibody itu non reaktif jangan berbangga hati dan tetap waspada. Pasalnya, yang ia alami, sebelumnya ia alami kasus seperti itu. Hasil rapid tesnya negatif, namun berselang beberapa hari baru reaktif.
Ibu dua anak ini mengaku sejak ia merasakan hilang penciuman, ia langsung berinisiatif isolasi diri tanpa menunggu anjuran atau perintah siapapun.
“Saya tak kontak langsung dengan anak, Suami, dan orang-orang yang ada di rumah. Saya lakukakan itu karena saya tahu, tiap hari kan saya buat berita, jadi ciri-ciri segala macem saya hafal betul,” lanjutnya.
“ Sejak saya dinyatakan Positif, Ria mengisolasi diri sendiri di rumah dan menjalankan prokes dengan disiplin”, tambahnya.
Ternyata, imunitas pada tubuh Ria tak begitu kuat. Ria melakukan rapid yang ke tiga kali pada minggu ketiga gejala itu masih ada, dan saat itu sudah masuk bulan Desember 2020 lalu.
Karena hasil rapid masih Positif, Ria pun kembali mengatur jadwal untuk swab test berikutnya guna memastikan kondisi tubuhnya lantaran kawatir juga dengan janin yang dikandunginya . Saat itu, seisi rumah Ria yang terdiri dari suami, satu anak, dan dua keponakannya melakukan Swab. Beruntunga tiga orang keluarganya non reaktif . “ Saya, anak saya, dan salah satu keponakan saya. Tapi empat hari kemudian hasil swab keluar dan hanya saya yang positif,” ujar Ria.
“Seperti habis makan saya langsung cuci piring, megang benda apapun langsung cuci tangan dan masker tak pernah lepas. Dan seluruh keluarga saya imbau seperti itu. Tidak pernah bersentuhan tidak pernah kontak langsung dengan mereka, karena saya menjaga keluarga saya,” ceritanya.
Pada suatu waktu pada saat isolasi, anak Ria pernah berkata yang membuat dirinya tak kuat menahan tangis. Dia merasa terasingkan dan terabaikan tanpa belaian orang tua.
“Anak saya berkata seperti ini ‘Bun, ternyata kena covid itu enggak enak ya, kita dijauhin, saya ga bisa deket-deket sama Bunda.’ Di situ saya langsung terenyuh dan saya mencoba tegar tapi ternyata ketegaran saya nggak cukup kuat. Saya coba untuk tidak menangis di depan anak saya, tapi tak kuasa saya menahannya. Beruntung saya komunikasi berjauhan, tapi saya lihat mata dia berkaca-kaca,” ujarnya lirih.
Sebenarnya, dari sebelum terdampak Covid, Ria sudah sangat disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Ia menegaskan bahwa Covid itu ada dan bisa menyerang siapa saja. Mangkanya kita harus pintar-pintar menjaga diri.
Saat Ria ingin malahirkan, ia dipakaikan seragam hazmat dan harus didorong pakai ranjang. Karena setelah dua bulan dirinya masih positif.
Dalam rekam jejaknya, ia melakukan 4 kali swab, pertama positif, dua minggu kemudian positif, sepuluh hari kemudian positif dan swab terakhir dilakukan di pagi hari saat dilarikan ke ruma sakit.
“Tapi, sebelum hasil itu keluar ternyata HPL saya itu sudah melebihi 3 hari. Dokter khawatir bayi itu akan keracunan karena dia kalau sudah lewat HPL biayanya bayi itu pup, nah dari pup ( air ketuban) itu takutnya terminum dan membuat bayi saya keracunan. Karena dokter khawatir akhirnya saya dirujuk 3 hari. Saya dirujuk untuk oprasi sesar,” kata Ria.
Dokter di rumah sakit umum sebenarnya merekomendasikannya di rumah sakit mana sana yang ada di Kota Metro. Namun sayangnya, tiga rumah sakit swasta yang bisa menangani covid belum bisa menangi pasien covid yang melahirkan. “Sebab resikonya tinggi dan mungkin fasilitasnya belum memadai, akhirnya saya ke umum,” lanjutnya.
Hari ke dua di Rumah sakit tepat pukul 17.00 WIB Ria melakukan operasi sesar. Saat itu, dirinya merasa bahwa harus berjuang sendiri.
“Biasanya abis operasi itu didampingi seperti mau minum, mau duduk saja dibantu, tapi saya benar -benar ngerasain ini sendiri,” lirihnya lagi saat diwawancara.
Ia berpikir bahwa ia harus segera pulang. Sebab, meskipun belum bisa kontak fisik secara langsung, dukungan keluarga sangat dibutuhkan untuk mengembalikan semangatnya.
Dua hari kemudian Ria diperbolehkan pulang. Saat sampai di rumah, Saya ia mendapat kabar dari petugas lewat Whatsapp bahwa dirinya dinyatakan telah negatif covid. “Ya Allah saya menangis saat itu,” ulasnya dengan wajah berkaca-kaca.
Ria berpesan agar seluruh masyarakat memercayai adanya covid ini. Dan mengajak untuk benar-benar menghargai dan menerapkan protokol kesehatan.
“Jadi masyarakat jangan abai. Menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, atau pakai handsanitizer, tidak berkerumun. Dan yang kalau tidak ada kepentingan tolong jangan keluar rumah,” pesanya.
Boleh orang lain tidak percaya covid, tapi saya semdiri yang sudah merasakan. Kalau sudah terserang baru ngerasain nggan enaknya.
Jadi jangan sampai masyarakat lainnya ikut terpapar. Belajarlah dari apa yang sudah Ria alami bahwa covid sangat menyengsarakan. ( Adi)















Add Comment