Lampung Utara News

Istri dan Calon Anak Meninggal Saat Bersalin, Hamroni Polisikan RS Hi. Muhammad Yusuf Kalibalangan

Jamroni (30) warga Kelurahan Rejosari, Kecamatan Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara (Lampura) menunjukkan bukti laporan polisi kepada awak media. (Yono)

LAMPUNG UTARA– Satreskrim Polres Lampung Utara (Lampura) menerima laporan terhadap RS Hi. Rumah Sakit Hi. Muhammad Yusuf Kalibalangan. Rumah sakit itu dilaporkan karena dugaan buruknya pelayanan persalinan hingga menghilangkan nyawa pasien.

Kapolres Lampura AKBP Bambang Yudho Martono, melalui Kasat Reskrim AKP Gigih Andri Putranto menerangkan, laporan dilayangkan Hamroni (30) Jamroni (30) warga Kelurahan Rejosari, Kecamatan Kotabumi, Kabupaten Lampura. Pelaporan lantaran istri dan calon anaknya meninggal dunia diduga akibat buruknya pelayanan rumah sakit.

“Iya benar, atas peristiwa tersebut, korban telah membuat laporan ke Polres Lampura dengan bukti laporan yang tertuang dalam LP/593/B/VI/2020/Polda Lampung/SPKT RES LU, tentang setiap tenaga kerja kesehatan yang melakukan kelalaian berat yang mengakibatkan kematian, pada Sabtu (20/6/2020) sekitar pukul 18.00 WIB. Sejauh ini laporan tersebut sedang dalam tahap lidik,” katanya, Rabu (24/6/2020).

Sementara Hamroni selaku pelapor menjelaskan, kematian istri dan calon anaknya diduga disebabkan oleh buruknya pelayanan RS Hi. Muhammad Yusuf Kalibalangan, Kecamatan Abung Selatan, kabupaten setempat. Ia mengulas, istrinya Desi Irawati (29) dan bayinya yang dalam kandungan meningggal dunia pada Rabu 17 Juni 2020 lalu, sekitar pukul 06.00 WIB, dengan hasil diagnosa Emboli Air Ketuban oleh pihak rumah sakit.

“Padahal pada Senin 1 Juni 2020 lalu, saya bersama Almarhum istri mengecek kondisi Kandungan di Klinik dr. Indra Husada Lubis, hasilnya baik dan bisa melahirkan secara normal,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Menurut perkiraan dr. Indra Husada Lubis, perkiraan bayi akan lahir Sabtu 20 Juni 2020. Lalu ia meminta saran terbaik kepada dr. Indra dimana tempat bersalin terbaik, dan disarankan ke RS Him Muhammad Yusuf Kalibalang.

“Bila waktu persalinan tiba, langsung dibawa saja ke rumah sakit Handayani atau sakit Hi. Muhammad Yusuf Kalibalangan. Saya pun mengikuti saran itu,” bebernya.

Pada Selasa 16 Juni 2020 sekitar pukul 10.00 WIB pagi, istrinya sudah memberikan tanda-tanda melahirkan, melihat hal itu ia langsung mengantarkan Alm istrinya ke RS Hi. Muhammad Yusuf Kalibalangan, untuk menjalani persalinan. Setiba dirumah sakit sang istri masuk keruang rawat inap dan masih bukaan 1.

“Sepanjang perjalanan dirawat di sana, tidak ada pelayanan yang berarti yang dirasakan, pukul 22.00 WIB hingga pukul 01.00 WIB pada hari itu juga, Alm mengalami kontraksi dan merintih kesakitan dan akhirnya berkoodinasi dengan pihak rumah sakit untuk di lakukan tindakan, namun tak diindahkan,” ulasnya.

Pada pukul 02.30 WIB istrinya mengalami pecah ketuban, dan tenaga medis hanya membersihkan air ketuban yang tumpah dan memindahkan ke ruangan kebidanan. Esoknya, sekitar pukul 05.30 WIB, kondisi korban semakin kritis, namun pada fase kritis tersebut, dokter baru tiba sejam setelah itu yaitu pada pukul 06.00 WIB.

“Setelah tiba dokter masuk ke ruangan persalinan dan langsung melakukan tindakan pemeriksaan kondisi tubuh, berupa pememasangan selang oksigen dan pemeriksaan bayi dalam kandungan. Tetapi istri dan calon anak saya sudah tidak tertolong lagi,” ungkapnya.

Ia mengaku kecewa dengan buruknya pelayanan RS Hi. Muhammad Yusuf Kalibalangan, yang mengakibatkan Istri dan calon bayinya meninggal dunia. Ia pun melaporkan peristiwa tersebut ke Mapolres Lampura dengan bukti laporan LP/593/B/VI/2020/Polda Lampung/SPKT RES LU.

Terpisah, Direktur RS Hi.Muhammad Yusuf dr. Sri Haryati menjelaskan, bahwa pasien Desi dan bayi di dalam kandungannya meninggal dunia dengan diagnasa Embilo Air Ketuban.

“Berbagai upaya tindakan medis telah dilakukan untuk menyelamatkan Alhmarhum Desi dan bayinya. Namun keduanya tidak bisa diselamatkan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan pasien Desi masuk kurang lebih pukul 10.00 WIB, dan tenaga medis langsung menangani pasien dengan mengecek kondisi sang ibu dan bayi. Selanjutnya, setiap 4 jam sekali tenaga medis terus mengontrol kondisi pasien hingga malam masih bukaan 1. Lalu, Bidan yang berjaga menganjurkan untuk dioperasi sesar.

“Namun keluarga pasien memutuskan untuk berembuk terlebih dahulu dengan keluarga lainnya, hingga pada akhirnya, tepat di pertengahan malam keluarga bersedia untuk dioperasi,” terangnya.

Ditambahkannya, pihak rumah sakit sudah menyarankan untuk dirujuk, tapi pihak keluarga ingin pasien tetap dirawat di RS Hi. Muhammad Yusuf Kalibalangan. “Semua upaya telah dilakukan untuk membantu pasien tapi Allah berkehendak lain,” pungkasnya. (Yono)

About the author

Redaksi TabikPun

Add Comment

Click here to post a comment

Tinggalkan Balasan

IKLAN

IKLAN

%d blogger menyukai ini: