Nasional News OPINI

Jakarta Kembali Dilanda Banjir

Banjir di Jakarta merupakan masalah kompleks yang membutuhkan solusi jangka panjang, seperti normalisasi sungai, peningkatan kapasitas drainase, dan pengurangan eksploitasi air tanah. (Ist)

Tabikpun.com – Banjir adalah peristiwa meluapnya air ke daratan yang biasanya kering, yang dapat disebabkan oleh faktor alam maupun aktivitas manusia. Jakarta memiliki potensi banjir yang tinggi karena berbagai faktor, baik alami maupun buatan.

Jakarta berada di dataran rendah dengan ketinggian rata-rata sekitar 7 meter di atas  permukaan laut, bahkan beberapa daerah berada di bawah permukaan laut. Perkembangan kota yang pesat menyebabkan berkurangnya area resapan air, seperti  hutan dan lahan hijau, yang digantikan oleh beton dan aspal.

Banyak saluran air yang tersumbat oleh sampah atau tidak mampu menampung debit  air yang tinggi, sehingga memperparah genangan. Banjir di Jakarta merupakan masalah  kompleks yang membutuhkan solusi jangka panjang, seperti normalisasi sungai, peningkatan kapasitas drainase, dan pengurangan eksploitasi air tanah.

Krisis iklim dan anomali cuaca terjadi karena kombinasi faktor alami dan aktivitas  manusia yang mengubah keseimbangan sistem iklim bumi. Berikut adalah beberapa penyebab utama:

  1. Peningkatan Emisi Gas Rumah Kaca (GRK), Gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dan dinitrogen oksida (N₂O) menyebabkan pemanasan global dengan menjebak panas di atmosfer.
  2. Pemanasan Global dan Perubahan Pola Cuaca, Cuaca ekstrem lebih sering terjadi, seperti gelombang panas, badai, banjir, dan kekeringan.
  3. Gangguan pola hujan, menyebabkan beberapa wilayah mengalami curah hujan ekstrem, sementara yang lain mengalami kekeringan parah.
  4. Pelelehan es di kutub, meningkatkan permukaan air laut dan memperburuk banjir di daerah pesisir. Dampak Krisis Iklim dan Anomali Cuaca Meningkatnya bencana alam (banjir, badai, kebakaran hutan).
  5. Ketahanan pangan terganggu akibat gagal panen dan perubahan pola musim tanam.
  6. Penyakit menyebar lebih luas karena perubahan suhu dan kelembaban mempengaruhi vektor penyakit seperti nyamuk.
  7. Krisis air bersih akibat kekeringan dan kontaminasi sumber air.

 

Dampak Krisis Iklim dan Anomali Cuaca

  1. Meningkatnya bencana alam (banjir, badai, kebakaran hutan).
  2. Ketahanan pangan terganggu akibat gagal panen dan perubahan pola musim tanam.
  3. Penyakit menyebar lebih luas karena perubahan suhu dan kelembaban mempengaruhi vektor penyakit seperti nyamuk.
  4. Kritisi air bersih akibat kekeringan dan kontaminasi sumber air.
  5. Krisis iklim dan anomali cuaca adalah tantangan besar, tetapi dengan langkah nyata dan komitmen global, dampaknya bisa dikurangi.

 

Solusi dan Upaya Mitigasi:

  1. Mengurangi emisi gas rumah kaca dengan beralih ke energi terbarukan dan efisiensi energi.
  2. Reboisasi dan perlindungan hutan untuk menyerap lebih banyak karbon.
  3. Pengelolaan air dan tanah yang lebih baik agar lebih tahan terhadap perubahan cuaca ekstrem.
  4. Kesadaran dan kebijakan global untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

 

Penyebab Banjir

Banjir terjadi ketika volume air yang berlebih tidak dapat diserap oleh tanah atau dialirkan dengan baik, sehingga menggenangi suatu wilayah. Hujan deras dalam waktu lama menyebabkan tanah dan sungai tidak mampu menyerap atau menampung air  secara efektif.

Perubahan iklim meningkatkan intensitas hujan ekstrem dan menyebabkan naiknya permukaan laut, yang memperburuk risiko banjir. Saluran air  yang sempit, tersumbat sampah, atau kurang terawat membuat air tidak dapat mengalir  dengan lancar, menyebabkan genangan yang berujung pada banjir.

Banjir adalah hasil dari kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. Untuk  mengatasinya, diperlukan solusi jangka panjang seperti perbaikan sistem drainase,  reboisasi, pengelolaan sampah yang lebih baik, serta kebijakan tata kota yang  memperhitungkan mitigasi banjir. Pembangunan yang tidak mempertimbangkan  dampak lingkungan memperparah risiko banjir.

Misalnya dengan menghilangkan daerah  resapan air atau mengalihkan aliran sungai. Pertumbuhan kota yang pesat dengan  banyaknya jalan dan bangunan beton mengurangi area resapan air, mempercepat aliran  air ke sistem drainase yang sering kali tidak cukup besar.

Dan Saluran air yang sempit,  tersumbat sampah, atau kurang terawat membuat air tidak dapat mengalir dengan lancar, menyebabkan genangan yang berujung pada banjir.

 

Resiko Bencana Hidrometeorologi

Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang dipicu oleh fenomena atmosfer,  hidrologi, dan oseanografi, seperti hujan ekstrem, badai, banjir, kekeringan, dan  gelombang tinggi.

Risiko dari bencana ini dapat berdampak luas terhadap manusia,  lingkungan, dan ekonomi. Bencana hidrometeorologi memiliki dampak luas dan  kompleks. Oleh karena itu, diperlukan langkah mitigasi seperti perbaikan sistem  drainase, reboisasi, pembangunan tanggul, serta peringatan dini dan kesiapsiagaan  masyarakat untuk mengurangi risikonya.

Hubungan rendahnya suplai air bersih perpipaan dengan banjir dan rob rendahnya suplai air bersih melalui sistem perpipaan di suatu wilayah dapat  berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap peningkatan risiko banjir dan  rob.

Eksploitasi Air Tanah Berlebihan dan Penurunan Muka Tanah seperti, Kurangnya suplai air bersih perpipaan memaksa masyarakat menggunakan air tanah secara berlebihan, baik melalui sumur bor maupun sumur dangkal, Pengambilan air tanah dalam jumlah  besar menyebabkan penurunan muka tanah (subsidence), terutama di daerah  perkotaan dengan populasi tinggi seperti Jakarta, dan Penurunan muka tanah  memperburuk banjir rob.

Karena permukaan tanah semakin rendah dibandingkan  permukaan laut, sehingga air laut lebih mudah masuk dan menggenangi wilayah  pesisir. Rendahnya suplai air bersih perpipaan mendorong penggunaan air tanah secara  berlebihan, yang pada akhirnya mempercepat penurunan muka tanah dan  memperburuk banjir serta rob. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan solusi jangka  panjang seperti peningkatan infrastruktur air bersih, pengurangan eksploitasi air tanah,  serta pembangunan sistem drainase dan tanggul yang lebih baik di daerah rawan.

Pasca banjir besar yang terjadi setelah banjir besar terjadi, berbagai dampak dapat dirasakan oleh masyarakat,  lingkungan, dan ekonomi. Oleh karena itu, langkah-langkah pemulihan perlu dilakukan  secara cepat dan efektif. Banjir yang kotor bisa menyebabkan penyakit, Banyak sumber air tercemar dan stok  makanan berkurang akibat rusaknya infrastruktur dan lahan pertanian, Rumah-rumah  yang rusak atau hanyut membuat banyak warga harus mengungsi, dan Sekolah, tempat  kerja, dan fasilitas umum bisa lumpuh akibat genangan air dan kerusakan.

Biaya untuk perbaikan infrastruktur, bantuan sosial, dan pemulihan ekonomi menjadi  sangat tinggi. Banyak bisnis terpaksa tutup sementara atau mengalami kerugian akibat  rusaknya barang dan fasilitas produksi. Pasca banjir besar, fokus utama adalah penyelamatan korban, penyediaan bantuan,  serta pemulihan infrastruktur dan ekonomi. Selain itu, langkah pencegahan jangka  panjang harus dilakukan agar risiko banjir di masa depan dapat dikurangi.

 

Keresahan dan Dampak Penyebab Banjir

Banjir menimbulkan berbagai keresahan bagi masyarakat, diantaranya:

  1. Kerugian Materiil seperti rumah, kendaraan, dan barang berharga bisa rusak atau hanyut.
  2. Gangguan Aktivitas seperti Sekolah, pekerjaan, dan transportasi terganggu.
  3. Penyakit dan Kesehatan seperti Air banjir membawa bakteri dan virus yang bisa menyebabkan penyakit kulit, diare, dan leptospirosis.
  4. Psikologis dan Trauma seperti Korban banjir sering mengalami stres, kecemasan, dan ketakutan akan banjir susulan.
  5. Kehilangan Nyawa seperti Banjir yang besar dapat menyebabkan korban jiwa, terutama jika arusnya deras.
  6. Pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan dan dapat menyerap air merupakan salah satu solusi efektif untuk mengurangi risiko banjir. Permeable pavement atau jalan yang dapat menyerap air adalah salah satu contoh  teknologi yang dapat digunakan.

 

Kelebihan Permeable Pavement

  1. Menyerap air hujan, Permeable pavement dapat menyerap air hujan dan mengurangi aliran permukaan, sehingga mengurangi risiko banjir.
  2. Mengurangi polusi, Dengan menyerap air hujan, permeable pavement juga dapat mengurangi polusi air tanah dan sungai.
  3. Meningkatkan kualitas air, Permeable pavement dapat membantu meningkatkan kualitas air tanah dengan menyerap air hujan yang bersih.
  4. Mengurangi biaya perawatan, Permeable pavement dapat mengurangi biaya perawatan jalan karena dapat menyerap air hujan dan mengurangi kerusakan jalan.

 

Peningkatan Kapasitas Jaringan Drainase

Jaringan drainase yang buruk menyebabkan air menggenang dan sulit mengalir. Menghilangkan sedimentasi dan memperbesar kapasitas drainase agar mampu  menampung lebih banyak air. Mengurangi genangan dengan mengalirkan air ke saluran  bawah tanah yang lebih besar dan dalam. Membangun jalan dan trotoar dengan bahan  yang bisa menyerap air, seperti permeable pavement.

Dengan kombinasi antara pengendalian hulu, peningkatan kapasitas drainase, dan  pembangunan infrastruktur ramah lingkungan, risiko banjir dapat dikurangi secara  signifikan.

Solusi untuk Mengatasi Banjir:

  1. Meningkatkan kapasitas drainase dan kanal.
  2. Reboisasi dan penghijauan kembali daerah tangkapan air.
  3. Membuang sampah pada tempatnya dan meningkatkan sistem pengelolaan sampah.
  4. Membangun daerah resapan air seperti taman kota dan sumur resapan.
  5. Mengembangkan tata kota yang ramah lingkungan.

Banjir adalah masalah yang bisa dicegah jika masyarakat dan pemerintah  bekerja sama dalam menjaga lingkungan.

 

Penutup

Gubernur terpilih DKI Jakarta diharapkan dapat melanjutkan dan meningkatkan upaya-upaya pencegahan banjir yang telah dilakukan oleh pemerintah sebelumnya. Beberapa  langkah yang diharapkan dapat dilakukan antara lain:

  1. Pengembangan Sistem Drainase, Meningkatkan kapasitas dan efisiensi sistem drainase untuk mengurangi risiko banjir
  2. Penghijauan dan Penanaman Pohon, Melanjutkan program penghijauan dan penanaman pohon untuk meningkatkan kemampuan tanah menyerap air hujan.
  3. Pemeliharaan dan Peningkatan Infrastruktur, Memastikan bahwa infrastruktur seperti waduk, embung, dan situ dapat berfungsi dengan baik untuk mengendalikan aliran air.
  4. Kesiapsiagaan dan Penanggulangan Bencana, Meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan penanggulangan bencana banjir melalui pelatihan, simulasi, dan pengadaan peralatan.
  5. Kerja Sama dengan Masyarakat, Meningkatkan partisipasi dan kerja sama dengan masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan banjir.

Harapan Masyarakat yaitu, Pemerintah DKI Jakarta dapat melanjutkan dan  meningkatkan upaya-upaya pencegahan banjir, Meningkatkan kesiapsiagaan dan  kemampuan penanggulangan bencana banjir, Meningkatkan partisipasi dan kerja sama  dengan masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan banjir.

Nama Penulis: Muhammad Farhan

Prodi:                    Komunikasi Digital dan Media IPB University

 

About the author

Redaksi TabikPun

Add Comment

Click here to post a comment

Tinggalkan Balasan

IKLAN

IKLAN

%d blogger menyukai ini: