Nasional News

Malioboro Surga Kuliner dan Kerajinan Yogyakarta

Jalan Malioboro adalah sebuah jalan di Kota Yogyakarta yang sering dianggap sebagai jalan paling terkenal di kota tersebut. (Ist)

Tabikpun.com – Siapa yang tidak tahu Jalan Malioboro? Tentu sudah menjadi kewajiban setiap wisatawan Yogyakarta untuk mengunjungi Malioboro ini. Malioboro tidak pernah sepi akan pengunjung karena akses nya yang 24 jam.

Malioboro memiliki daya tarik sehingga selalu ramai didatangi wisatawasan baik dalam maupun luar negeri. Jalan Malioboro adalah sebuah jalan di Kota Yogyakarta yang sering dianggap sebagai jalan paling terkenal di kota tersebut.

Tempat wisata di Yogyakarta tidak hanya sekedar tempat wisata yang menyuguhkan panorama keindahan yang memikat hati, tapi juga menjadi sarana edukasi bagi anak-anak  dalam mengenal kebudayaan serta sejarah yang ada di kota tersebut.

Salah satu yang menjadi ikon dari Kota Yogja adalah Jalan Malioboro Yogyakarta yang merupakan tempat yang selalu ramai baik siang maupun malam. Jalan Malioboro pun dianggap sebagai simbol kota dan provinsi. Wisata Malioboro  merupakan salah satu tempat favorit warga hingga wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.

Maliboro merupakan jalan yang menghubungkan Tugu Yogyakarta hingga Keraton Yogyakarta. Malioboro banyak pedagang kaki lima yang akan memanjakan mata para wisatawan dengan menjual berbagai kerajinan khas Yogyakarta, seperti kerajinan tangan, kerajinan bambu dan aksesoris mainan anak-anak.

Memasuki sore hari hingga pagi buta koridor Malioboro ini berganti dengan kulineran khas Yogyakarta yaitu angkringan. Ketika pagi hari hingga sore hari, Malioboro ramai pedagang  kerajinan, ketika sore hari hingga pagi buta koridor Malioboro berganti kulineran, sehingga  Malioboro dapat diakses 24 jam.

Malioboro Yogyakarta merupakan tempat belanja yang  menjadi ikon dari kota yang dijuluki sebagai pelajar ini. Disana terdapat beberapa toko yang menjual oleh-oleh menarik. Kawasan Malioboro ini memiliki letak strategis karena kawasan koridor Jalan Malioboro letaknya berada di jantung Kota Yogyakarta sehingga membuat kawasan ini mudah dijangkau.

Hal ini didukung dengan lokasi Malioboro yang dekat dengan stasiun kereta api, bandar udara, dan terminal bus sehingga memudahkan wisatawan atau pengunjung yang ingin mencapai kawasan Malioboro.

Salah satu elemen pendukung jalan yang memadai sebagai ruang publik pada kawasan Malioboro adalah fasilitas penyeberangan, yang dibangun untuk melindungi pejalan kaki  sehingga dapat dengan aman menyeberang jalan kendaraan dan menghindari kecelakaan lalu lintas serta kemacetan.

Jalan Malioboro sebenarnya hanya terbentang dari sisi selatan rel kereta api, di depan Hotel Grand Inna hingga berakhir di Pasar Beringharjo sisi timur. Dari titik ini, nama jalan berubah menjadi Jalan Margo Mulyo hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Jalan Malioboro menjadi batas antara Kemantren Gedongtengen dan Kemantren Danurejan.

Di mana sisi barat Malioboro adalah wilayah dari kemantren Gedongtengen, dan sisi timur Malioboro adalah wilayah dari kemantren Danurejan.Sedangkan seluruh sisi jalan Margo Utomo adalah wilayah dari Kemantren Jetis, dan sisi jalan Margo Mulyo adalah wilayah dari Kemantren Gondomanan.

Jalan Malioboro berfungsi sebagai jalan utama kerajaan ( Rajamarga ) untuk kegiatan seremonial kesultanan.  Saat sultan keluar dari istana dalam dan duduk di Sitinggil pada upacara publik, ia dapat melihat langsung Jalan Malioboro hingga Tugu di kejauhan.

Antara Jalan Malioboro dan keraton terdapat dua pohon beringin yang diberi pagar persegi (waringin kurung) di Alun-alun Utara. Beringin kembar ini menyimbolkan penyatuan dua hal yang bertolakbelakang (loroning atunggal). Adanya tugu di sebelah utara dan beringin kembar di antara jalan utama ibu kota kesultanan memiliki arti simbolis dan filosofis yang kuat  yang diciptakan oleh Hamengkubuwana.

Selain itu, jalan ini juga digunakan saat kunjungan resmi pejabat kolonial Belanda dan  Inggris, seperti gubernur jenderal, untuk memasuki keraton Yogyakarta. Berdirinya benteng  Vredeburg di Yogyakarta tidak lepas dari lahirnya Kasultanan Yogyakarta. Kraton Kasultanan  Yogyakarta pertama dibangun pada tanggal 9 Oktober 1755.

Setelah kraton mulai ditempati kemudian dibangun bangunan pendukung lainnya  seperti Pasar Gedhe, Masjid, alun-alun dan bangunan pelengkap lainnya. Jalan Malioboro  punya arti penting sebagai salah satu pusat perekonomian, hiburan, wisata, dan kuliner kota  Yogyakarta.

Penggunaan jalan ini pada umumnya dimanfaatkan oleh pedagang kaki lima  (PKL), pertokoan, penduduk lokal, dan wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.  Salah satu keistimewaan wisata Malioboro ini adalah suasananya yang nyaman serta  serba ada di Malioboro mulai dari oleh-oleh khas Jogja, pusat kuliner, hiburan musik, tempat  nongkrong yang nyaman.

Bahkan untuk jajanan kuliner masih sangat terjangkau. Sedangkan  untuk pernak pernik baju di Pasar Beringharjo harganya juga terjangkau bahkan pembeli masih  bisa menawar. Banyak tempat menarik di kawasan Malioboro yang bisa kamu kunjungi seperti Teras Malioboro.

Selain itu, mendukung penataan dan pengembangan kota di sepanjang Jalan Malioboro agar lebih rapi dengan adanya Teras Malioboro. Hal ini juga bertujuan mewujudkan Malioboro masuk Sumbu Filosofi Imajiner Yogyakarta menjadi destinasi wisata bertaraf internasional, dengan terdaftar di UNESCO.

Kesimpulan yang dapat diambil yaitu Malioboro merupakan ikon wisata di Yogyakarta yang terkenal dengan suasana khasnya, deretan pedagang kaki lima, pusat oleh-oleh, seni jalanan, serta berbagai bangunan bersejarah.

Malioboro menjadi destinasi favorit wisatawan karena keunikannya yang menggabungkan budaya, sejarah, dan aktivitas perdagangan.  Selain itu, Malioboro juga menjadi pusat kehidupan sosial dan budaya, terutama dengan  keberadaan seniman jalanan dan berbagai acara kesenian.

Namun, perkembangan modernisasi  dan penataan ulang kawasan ini juga membawa perubahan terhadap dinamika sosial dan  ekonomi di sekitarnya. Atmosfer Malioboro selalu ramai dan dinamis. Wisatawan dari berbagai  penjuru dunia berbaur dengan masyarakat lokal, menciptakan suasana yang penuh dengan keramah tamahan dan kebersamaan.

Nama Penulis: Muhammad Farhan

Prodi:                    Komunikasi Digital dan Media IPB University

 

About the author

Redaksi TabikPun

Add Comment

Click here to post a comment

Tinggalkan Balasan

IKLAN

IKLAN

%d blogger menyukai ini: