METRO – Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025 di Kota Metro berlangsung khidmat dan penuh makna. Upacara yang digelar di Samber Park dihadiri jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para pimpinan instansi, pelajar, veteran, serta tokoh masyarakat, Senin (10/11/2025).
Namun sorotan utama datang dari kehadiran Ketua DPRD Kota Metro, Ria Hartini, S.Sos., M.M., yang menyampaikan seruan keras mengenai pentingnya menjaga nilai-nilai kepahlawanan di tengah tantangan moral dan sosial yang semakin kompleks.
Dalam kesempatan itu, Ria tidak hanya hadir sebagai pejabat publik, tetapi juga sebagai figur yang kerap menyuarakan isu etika dan integritas birokrasi. Ia menilai momentum Hari Pahlawan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat tentang arah pembangunan Kota Metro ke depan.
“Hari Pahlawan seharusnya menampar kesadaran kita semua. Kepahlawanan bukan lagi soal mengangkat senjata, tetapi keberanian menjaga nilai, melawan korupsi, dan melayani masyarakat dengan hati,” ujar Ria.
Upacara dimulai pukul 07.30 dengan barisan peserta dari berbagai unsur, mulai dari TNI-Polri, ASN, pelajar, pramuka, hingga perwakilan organisasi masyarakat. Samber Park yang biasanya ramai dengan aktivitas warga, pagi itu berubah menjadi ruang refleksi kolektif. Bendera merah putih berkibar setengah tiang sebagai simbol duka dan penghormatan kepada para pahlawan bangsa.
Wali Kota Metro bertindak sebagai inspektur upacara dan membacakan pesan nasional Hari Pahlawan 2025. Dalam amanatnya, ia menekankan bahwa tantangan generasi masa kini adalah menjaga persatuan dan menguatkan ketahanan sosial. Setelah pembacaan pesan, dilanjutkan hening cipta, pembacaan doa, dan pertunjukan singkat dari pelajar mengenai kisah perjuangan lokal Lampung.
Di antara barisan tamu undangan, Ketua DPRD Ria Hartini terlihat aktif berinteraksi dengan para veteran serta tokoh masyarakat yang hadir. Gestur itu menunjukkan komitmennya bahwa peringatan Hari Pahlawan bukan sekadar simbol politik, tetapi ruang dialog antargenerasi.
Usai upacara, Ria berdiri di tepi panggung berbincang dengan para wartawan. Ia menyampaikan pandangannya mengenai relevansi nilai kepahlawanan di era modern. Menurut Ria, generasi saat ini menghadapi “musuh” yang berbeda dari generasi para pejuang kemerdekaan dulu. Jika dahulu musuhnya adalah kolonialisme, kini tantangannya adalah degradasi nilai, keterpecahan sosial, kemalasan berpikir, serta rendahnya kesadaran akan tanggung jawab kolektif.
“Kepahlawanan hari ini bukan tentang perang, tapi keberanian untuk menjalankan tanggung jawab publik secara jujur. Kita menghadapi ancaman dari dalam, seperti ketidakpedulian, korupsi, dan melemahnya semangat gotong royong. Ini harus kita lawan bersama,” kata Ria.
Pernyataan itu tampak sesuai dengan sikap kritisnya selama ini dalam rapat-rapat anggaran dan pengawasan kebijakan pemerintah daerah. DPRD Metro di bawah kepemimpinannya memang beberapa kali menegaskan sikap tegas terhadap penyimpangan administrasi, pemborosan anggaran, dan lemahnya evaluasi program pemerintah.
Dalam wawancaranya, Ria juga menyoroti peran generasi muda yang menurutnya memegang kunci masa depan Kota Metro. Ia menilai bahwa pelajar dan mahasiswa harus didorong untuk memiliki kesadaran sejarah dan komitmen moral terhadap kota mereka.
“Anak-anak muda Metro harus tahu bahwa mereka bukan hanya pewaris kota ini, tetapi penanggung jawab masa depannya. Kepahlawanan modern lahir dari keberanian berpikir kritis, tidak gampang termakan hoaks, dan berani menyuarakan kebenaran,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan aparatur sipil negara yang hadir agar menjadikan Hari Pahlawan sebagai momentum introspeksi.
“ASN adalah wajah pelayanan publik. Ketika Anda melayani dengan jujur, itulah kepahlawanan. Ketika Anda menolak gratifikasi, itu jauh lebih heroik daripada mengangkat senjata,” tegasnya.
Salah satu momen yang paling menyentuh dalam upacara terjadi ketika seorang veteran berusia 87 tahun, Sersan Mayor (Purn) Slamet Wiryono, menyampaikan pesan singkat. Suaranya bergetar saat mengingat masa perjuangannya. Ia mengatakan bahwa pengorbanan para pahlawan akan sia-sia jika generasi sekarang kehilangan rasa persatuan.
Ria tampak mendekatinya setelah upacara, berbincang beberapa menit, dan menggenggam tangan sang veteran. Kepada wartawan, ia mengatakan bahwa pertemuan itu menguatkan komitmennya.
“Melihat para veteran masih hadir dengan semangat seperti itu, di usia lanjut, membuat saya merasa bertanggung jawab untuk memperjuangkan integritas di pemerintahan. Kita harus memastikan apa yang mereka wariskan tidak rusak oleh perilaku generasi sekarang,” ungkapnya.
Pemilihan Samber Park sebagai lokasi upacara juga tidak lepas dari simbolisme. Ruang publik tersebut telah menjadi titik berkumpul masyarakat, tempat kegiatan budaya, olahraga, hingga diskusi. Menurut Ria, memilih tempat itu berarti mengembalikan Hari Pahlawan kepada rakyat.
“Upacara di ruang publik mengingatkan bahwa kepahlawanan bukan milik pemerintah saja, tapi milik seluruh warga. Setiap orang bisa menjadi pahlawan mulai dari hal-hal kecil, seperti menjaga kebersihan kota, membantu tetangga, atau melaporkan potensi penyalahgunaan anggaran,” jelasnya.
Dalam bagian akhir wawancara, Ria menghubungkan semangat Hari Pahlawan dengan agenda pembangunan Kota Metro. Ia mengatakan bahwa pembangunan infrastruktur dan peningkatan layanan publik tidak bisa berjalan tanpa integritas dan etos kerja yang kuat.
“Kalau kita ingin Metro maju, kita harus mulai dari membangun karakter manusianya. Kota ini butuh pemimpin yang jujur, warga yang peduli, dan budaya yang sehat. Itulah esensi perjuangan modern,” ujarnya.
Setelah itu, Ria mengikuti sesi tabur bunga dan penghormatan di Taman Makam Pahlawan setempat. Kehadirannya memberi pesan bahwa peringatan Hari Pahlawan tidak sebatas simbol upacara pagi, tetapi rangkaian kesadaran yang menyeluruh.
Upacara Hari Pahlawan 2025 di Samber Park bukan hanya ritual tahunan, tetapi momentum penting bagi pemerintah, DPRD, dan warga Kota Metro untuk meninjau kembali arah moral pembangunan daerah. Dalam situasi sosial yang cepat berubah, nilai-nilai kepahlawanan justru menjadi pegangan.
Ketua DPRD Ria Hartini menegaskan bahwa perjuangan saat ini adalah perjuangan menjaga integritas dan keberpihakan kepada rakyat.
“Perjuangan tidak berhenti setelah upacara ini selesai. Perjuangan itu justru dimulai ketika kita kembali bekerja besok pagi,” tegasnya.
Dengan pesan kuat itu, peringatan Hari Pahlawan kali ini meninggalkan kesan mendalam. Bukan hanya tentang masa lalu, tetapi tentang masa depan–tentang komitmen seluruh elemen kota untuk menjaga semangat pahlawan tetap hidup dalam setiap tindakan, kebijakan, dan keputusan publik di Kota Metro. (Adv)















Add Comment