Feature Metro

Semangat dan Konsisten Aka Pertahankan Coffeshopnya Kala Dihantam Pandemi

Aka tengah berbincang dengan teman juga yang menjadi pengunjung coffee.et.bien sembari mengevaluasi rasa dan suasana tempat usahanya. (Adi)

Kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil. Begitu juga semangat dan konsisten dalam berusaha. Pelajaran itu yang ingin disampaikan Atmaka Yoni Kurniawan (27) Owner coffee.et.bien di Jalan Tawes St, No. 38, Kota Metro, Lampung kepada para pengusaha muda  yang mulai berdikari.

Kalimat itu dibuktikanya sendiri setelah berhasil bertahan dari hantaman pandemi Covid-19. Padahal, saat virus itu menyerang, usahanya baru seumur jagung. Seperti diketahui, tak sedikit pengusaha gulung tikar dan pekerja di PHK lantaran virus tersebut.

”Virus corona datang, saat usaha saya masih berumur jagung, tentu ini bukan persoalan yang sederhana,” kata Aka sapaa akrab Atmaka Yoni Kurniawan sangat serius kepada pewarta tabikpun.com, Selasa (10/11/2020).

Pria asli kelahiran Bumi Sai Wawai ini menghabiskan pendidik SMA, kuliah dan bekerja barista di Yogyakarta. Dasar tersebut yang mendorongnya untuk terjun di dunia perkopian sesuai keahlianya.

 “Februari 2019 saya datang ke Metro lagi. Terus mulai ngatur hidup lagi dari awal bareng istri. Ide ini sebenernya sudah lama, karena saya dulu bekerja sebagai barista. Istilahnya sudah nyemplung langsung ke dunia perkopian. Saat tiba di Metro lagi, ya kenapa nggak langsung saya implementasiin bangun coffeshop sendiri,” ulasnya.

Setelah yakin akan keputusanya, Aka memulai mencari informasi untuk mendukung berdirinya usahanya. Seperti lokasi, kebiasaan nongkrong anak muda, pun selalu sharing dengan relasi pengusaha yang sudah lebih dulu berdiri.

 “Kalau saya, lebih tepatnya melihat daerah atau lokasi, itu yang pertama saya lihat. Saya juga kebetulan belajar dari strategi marketing dari perusahaan yang agak besar; yaitu Abnormal. Itu yang saya pakai,” jelas bapak satu anak itu.

Ia juga memetakan tiap potensi konsumsi dan kecendrungan masyarakat, di mana lokasi usahanya akan didirikan. Menurutnya hal itu menjadi strategi awal sebelum benar-benar mendirikan usaha.

“Dalam radius 3-5 kilometer dari lokasi kita harus ngecek. Gimana konsumsi masyarakatnya serta melihat kebiasaan nongkrongnya. Apakah masyarakat tersebut senang dengan nongkrong. Dalam radius yang sama juga, kita melihat apakah ada sekolahan atau kampus. Jadi, awal yang saya lihat sebenarnya dari lokasi,” jelansya.

Setelah saat semua rumusan sudah dijalani, usaha yang dinamainya coffee.et.bien pun berdiri. Berbeda dengan usaha pada umumnya, karena diawal usaha pembeli sangat minim. Ia mewajarkan hal tersebut.

“Jujur saja, di minggu pertama kami mungkin hanya menerima 10 pengunjung. Beberapa minggu ke depan berjalan serupa, dan baru mulai ramai ketika akhir Januari,” tutur Pria lulusan Tekhik Indsustri Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNVY) tersebut.

Namun strategi tidak bisa menyaingi kehendak ilahi, lantaran saat dimulai Januari 2020 usahanya langsung dihadapkan pada pandemi Covid-19 saat baru dua bulan berjalan. “Stabil ramai sampai akhir Februari, lalu kabar korona sampai sini. Secara otomatis mahasiwa dan siswa sebagai target market saya diliburkan dari pendidikannya,” katanya mengenang masa sulit itu.

Saat itu, penghasilan turun drastis. “Di situ, market dan pasar usaha saya turun lagi. Ya disitu kami terkena dampaknya juga,” lanjut Aka.

Tiga bulan menjadi bulan yang memilukan buat pengusaha muda ini, pasalnya kebijakan yang membuat galau masyarakat ini membuat omset penghasilannya turun drastis.

“Apalagi saat Maret dan April, gencar-gencarnya pengurangan jam oprasional. Biasa kami buka 12 jam, dan pandemi mengharuskan hanya buka 6 jam saja. Di situ, omset turun sekitar 80%, dan itu berjalan selama tiga bulan,” ceritanya sambil mengingat masa sulit itu.

Bulan April adalah puncak dari kemerosotan usahanya. “Saat April, tapatnya bulan puasa, usaha saya pada puncak keterpurukan. Bahkan ada karyawan yang keluar karena ingin bekerja di tempat lain,” tambahnya.

Pada saat  menghadapi masa sulit, Aka tidak menggunakan alternatif dalam mencukupi kebutuhan hidupnya. “Pinter-pinter manejemen aja saat terpuruk, karena saya ngga ada pandangan untuk mencari alternatif. Kebetulan seseorang yang sudah berani mulai usaha, juga harus memiliki savemoney atau uang simpanan, sebab dana tak terduga itu pasti ada. Dan calon pengusaha harus memikirkan ini,” katanya memberi motivasi.

Sementara sejak Juni, coffee.et.bien  mulai bangkit lagi walau tidak seramai sebelum pandemi menyerang. “Kita mengahadapi masa recovery sejak Juni. Kita mulai evalusi sampai menyiapkan apapun yang harus dilakukan demi menaikan pasar lagi, contoh kaya promo dan gencar di online. Itu yang paling penting,” tutur mantan barista tersebut.

Setelah masa transisi dan penerapan New Normal, kedai kopi Aka mulai stabil kembali. “Saat ini kondisi mulai pulih. Balik lagi ke target marketing, kenyaman saat mengopi dijadikan prioritas, karena di sini pelajar dan mahasiswa butuh tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas atau sekedar kuliah daring,” ucap Aka sambil melihat-lihat ruangan yang didesain minimalis itu.

Meskipun selalu ramai, tempat ngopi estetik ini juga tetep memberikan edukasi perihal protokol kesehatan. Pengunjung wajib menerapkannya, pun menyediakan tempat cuci tangan serta handsanitizer.

“Saya selalu berpesan kepada barista, agar setiap pengunjung yang tidak menggunakan masker saat datang harus segera menggunakan. Bahkan jika tak memilikinya, dianjurkan beli terlebih dahulu. Ini demi kesehatan bersama,” tegasnya.

Untuk sekarang, coffe.et.bien bukan hanya menjual kopi , tetapi menjual menu makan juga. “Setelah berhasil melewati masa kelam, kami meberikan inovasi baru. Tadinya hanya menjual menu minuman, sekarang tersedia juga makanan,” tuturnya sambil menunjuk arah dapur.

Aka berpesan pada seluruh pelaku usaha, bahwa menjaga semangat dan konsisten menjadi point utama. Karena dengan kedua itu juga, ia masih bisa bertahan sampai sejauh ini.

“Saya menjual semangat dan konsistensi saya, agar usaha ini terus berjalan. Kedua hal itu harus dimiliki setiap pelaku usaha, mengingat sekarang banyak yang bikin usaha hanya berjalan beberapa bulan saja. Maka dari itu, untuk calon pengusaha di luar sana, tanamkanlah kedua itu pada diri kalian,” tegasnya.

Dipenghujung, Aka berpesan untuk usaha saat ini jiwa pesaing harus dilupakan terlebih dahulu. Karena saat ini hampir semua mengalami kesulitan, dan mulailah dengan kerjasama.

“Lupakan dulu jiwa kompetisinya, saatnya kita melakukan kolaborasi. Karena kami juga melakukan itu dan ada dampak positifnya,” pungkas pengusaha muda itu.

Penulis: Adi

Redaktur: Angga

About the author

Redaksi TabikPun

Add Comment

Click here to post a comment

Tinggalkan Balasan

IKLAN

IKLAN

%d blogger menyukai ini: