METRO – Adi Jumly tak pernah menyangka, meniti karir dari gerobak kayu palet hasil karyanya itu, kini sudah membuat dua outlet (gerai) es teh yang dinamakan “Es Dot Teh”.
Pria berumur 30 tahun itu pada awalnya mencoba cari keuntungan dengan menjual thai tea. Minuman yang sempat viral dan cukup digandrungi berbagai kalangan pada tahun 2016-2017 lalu.
Seiring berjalannya waktu, sama halnya Es Kepal Milo, minuman thai tea jarang diminati lagi. Sebab, seperti itulah halnya makanan atau minuman yang hanya viral beberapa saat lalu redup.
Melihat fenomena itu, pria yang akrab disapa Jumly tersebut mencoba inovasi baru dengan mengkombinasikan dengan teh oolong.
Dilansir dari merdeka.com, teh oolong memiliki perpaduan rasa antara teh hitam dan hijau. Ada berbagai macam teh oolong, tetapi jenis yang paling terkenal berasal dari Provinsi Fuijan, China. Sedangkan, Jumly mendapatkan teh oolong itu dari Taiwan secara online.
“Mulai dari 2017 gerai ‘Es Dot Teh’ berdiri di Titik Singgah. Saat itu Titik Singgah juga baru berdiri,” katanya, Senin (21/11/2021).
Pria kelahiran Bengkulu itu memiliki alasan mengapa membuka gerainya di Titik Singgah. Menurutnya selain out door, tempat itu juga tetap aman dari hujan.
“Untuk beberapa menu juga kami campur dengan teh dari dalam negeri. Saat ini ada 18 menu es teh dengan berbagai macam rasa yang tersedia di sini,” tuturnya.
Saat ini, Jumly sudah memiliki gerai tambahan di Jalan Ki Hajar Dewantara No. 67, Iringmulyo, Metro Timur, atau bekas Cafe Flava. Bahkan, ia sudah merencanakan akan menambah gerainya di daerah 16c, Ganjaragung dan di Hadimulyo Barat. “Itu target selanjutnya,” ucapnya.
Kedua gerai Es Dot Teh bukan mulai pukul 10.00 hingga 21.00 WIB. Dalam sehari, kedua gerai tersebut akan kebanjiran pelanggan. Bahkan ketika hujan pun, minuman tersebut mampu menjual seratus cup lebih.
Kehadiran Covid-19 di Kota Metro pada awal April 2020 lalu sempat membuat kedainya terbilang lumpuh total yang mendapatkan omzet tak sebanding lantaran minim. Namun sebagai pengusaha yang komitmen, Jumly tak pernah patah semangat, apalagi putus asa. Ia kini berhasil bangkit dari keterpurukan di masa pandemi yang melanda.
“Jadi kami menjual menggunakan cup. Cup itu ada ukurannya, S harga 8k (delapan ribu) sedangkan L 10k (sepuluh ribu). Puncak keramaian itu tahun 2017/2018. Sekarang 2021 juga lumayan ramai. Karena ketika Covid datang sempat nurun penghasilan,” kisahnya.
Ia mempekerjakan tiga pegawai di seluruh gerai. Untuk bahan pokok, setiap bulan Jumly membeli 1 dus teh hijau dan 1 dus teh kuning (oolong), keduanya sebanyak 12 kilogram.
Ibarat kata, usaha tak mengkhiatai hasil, pada tahun pertama awal buka hasilnya terbilang melejit, Ia mendapatkan Rp 225 juta per tahun. Kegigihan dan keuletan Pria warga 16.a Mulyosari itu, juga sudah mendapatkan dua unit Mobil minibus dari berjualan es teh tersebut.
Menurutnya, mengapa sampai hari ini banyak yang masih meminati itu, karena dengan harga yang terjangkau minuman itu udah menggunakan UHT (susu full krim) asli.
“Meskipun udah ada yang jaga, dari buka sampai tutup saya standby (menjaga) di lokasi usaha untuk mengontrol dan mengevakuasi, juga melihat stok supaya orang beli tidak pernah kehabisan,” ujarnya.
Titik Singgah pernah melakukan renovasi. Dalam masa rekontruksi tempat tersebut, ia terpaksa harus berhenti berjualan. Tak habis akal, ia melakukan bisnis aluminium baja ringan untuk menyambung hidupnya.
Nisa (24), salah satu pegawai mengatakan, menu andalan adalah Oreo Tea dan Yakult. Dalam sehari, kedua menu andalan itu bisa laku sampai puluhan.
“Itu dicampur oleh sari teh semua. Semua menu pasti ada sari tehnya, karena sesuai dengan namanya. Kalau untuk menu silahkan cek di instagram kami @esdotteh,” katanya.
Selain bisa dikonsumsi untuk sekedar santai, teh juga bisa menjadi teman makanan berat. Kelancaran usahanya itu tidak hanya faktor ketekunan, ia memiliki prinsip.
“Daripada pusing memikirkan apa kata orang lain tentang ada, lebih baik lakukan yang terbaik, yang membuat mereka makin pusing memikirkan anda,” terangnya. (AW/Adi)















Add Comment