Tabikpun.com – Indonesia merupakan negara presidensial yang sistem pemerintahannya dipimpin oleh seorang presiden sebagai kepala negara. Setiap Pemilihan Umum (Pemilu), tentunya pasangan presiden dan wakil presiden mengusung serangkaian program kerja yang menjadi prioritas untuk direalisasikan selama masa jabatan mereka.
Begitu pun dengan salah satu program ambisius yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto, yaitu Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang bertujuan untuk menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak sekolah dan ibu hamil guna menekan angka malnutrisi dan stunting di Indonesia. Di awal tercetusnya ide Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini oleh Presiden Prabowo Subianto, hal ini langsung menuai banyak tentangan dan kritisi dari rakyat Indonesia saat masa Pemilihan Umum (Pemilu).
Namun, dengan banyak tantangan dan pertimbangan, akhirnya program ini diluncurkan pada 2 Januari 2025 dengan anggaran awal sebesar Rp71 triliun, yang menurut Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Pangan, diproyeksikan hanya mencukupi hingga Juni 2025. “Itupun belum mencakup seluruh anak sekolah di Indonesia,” ujarnya.
“Sekarang Rp 71 triliun cukup sampai bulan Juni. Kalau tahun depan semua dari Januari, anggaran yang diperlukan mencapai Rp 420 triliun,” timpalnya. Selain keterbatasan anggaran menjadi isu utama, ambisi besar ini tidak lepas dari berbagai polemik, mengingat pemasukan uang kas negara yang masih terbatas dan banyaknya program prioritas lain yang juga membutuhkan pendanaan menuai ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah yang menggampangkan soal anggaran, seperti dikutip dari komentar salah satu akun X dengan username @cheeseburgvrl pada akun @BetaEpsilonPhi, “ada prioritas nasional, prioritas utama, prioritas presiden, terlalu banyak frasa “prioritas” sampai kehilangan makna prioritas itu sendiri,” ujarnya.
Jadi, setelah menuai banyak kritik dari masyarakat soal keterbasan dana, apakah Program Makan Bergizi Gratis ini masih relevan dilanjut? Pertama, perlu dipahami Program Makan Bergizi Gratis merupakan program berskala masif dari pemerintah yang menyasar hampir seluruh murid sekolah di Indonesia dengan hasil jangka panjang, yaitu terwujudnya generasi anak anak Indonesia yang bebas stunting. Dengan skala sebesar itu, program tersebut merupakan program penuh risiko, Salah satunya adalah program jangka panjang tersebut dapat menguras sebagian besar APBN negara tahun 2025, bahkan dapat memicu tumbuhnya hutang-hutang baru.
Hutang-hutang tersebutlah yang dapat menyebabkan masalah-masalah baru jika tidak disertai dengan peningkatan pemasukkan negara, bahkan pembiayaan Program Makan Bergizi Gratis dengan hutang-hutang dapat menyebabkan program ini tidak sustainable dan seakan memberi kesan bahwa program ini hanya kebijakan populis yang bersifat iming iming terhadap rakyat. Maka dari itu, pemerintah perlu memperbaiki citra Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini dengan beberapa cara, di antaranya adalah peralihan fokus penerima bantuan program ini pada daerah yang tergolong 3T atau daerah yang memiliki data stunting yang tinggi pada anak-anak, hal ini dapat dilakukan dengan koordinasi bersama badan statistik setempat untuk mendata daerah mana saja yang layak untuk mendapat bantuan program ini.
Data yang masuk nantinya akan diolah oleh Kemensos untuk ditentukan batas kriteria daerah dan sekolah yang layak mendapat bantuan program ini. Kemudian, setelah menentukan daerah dan sekolah mana saja yang layak mendapatkan bantuan dari program ini, makanan yang didistribusikan diuji kelayakannya oleh Badan Gizi Nasional (BGN) agar tujuan dari program ini sesuai dengan namanya, yaitu Program Bergizi Gratis, bukan hanya program makan siang gratis. Peralihan sasaran ini dilakukan untuk mencegah adanya prioritas negara yang bertabrakan dan mengganggu anggaran program-program penting yang sudah berjalan dari pemerintahan sebelumnya.
Mengutip dari laman www.liks.suara.com, salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di pembangunan sektor kessehatan, CISDI, mengatakan “Jangan sampai MBG justru merusak program yang sudah ada dan merugikan penerima manfaat, seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan disabilitas.” Dengan peralihan sasaran penerima bantuan, diharapkan program ini dapat menjadi salah satu pionir dalam sektor kesehatan, terutama pengentasan stunting di daerah 3T.
Kemudian, untuk melanjutkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah dapat mencari investor atau mitra yang dapat bekerja sama dalam pendanaan perkembangan sektor agroindustri, maritim, serta pengolahan dan ketahanan pangan. Hal ini dilakukan agar keberlanjutan dalam program ini terjaga serta diiringi oleh modernisasi sektor agromaritim dan industri pangan Indonesia agar bisa mewujudkan swasembada pangan.
Sehingga, diharap dengan adanya modernisasi sektor tersebut, para pemuda/i tertarik untuk berkecimpung di industri tersebut dan dapat ikut serta dalam memajukan perekonomian Indonesia. Hal ini tentu merupakan target besar Negara Indonesia yang bisa diwujudkan jika seluruh pemerintah dapat berkoordinasi dan bekerja sama dalam perbaikan citra Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini agar tidak terjadinya banyak polemik dan tidak menyebabkan alokasi APBN Kabinet Merah Putih pada program yang kurang terfokus dan bersifat masif.
Jadi, agar tetap relevan dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, pemerintah harus memperbaiki fokus dan implementasi program ini. Peralihan sasaran kepada daerah 3T dan wilayah dengan angka stunting tinggi akan menjadikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lebih tepat sasaran. Selain itu, sinergi dengan sektor agroindustri dan mitra investasi dapat memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus menjadikan program ini lebih berkelanjutan.
Oleh karena itu, keputusan untuk melanjutkan atau menghentikan program ini tidak hanya bergantung pada ambisi politik, tetapi pada kesiapan negara dalam mengelola anggaran dan efektivitas implementasinya. Jika terus berlanjut tanpa perbaikan pondasi program, hal ini berisiko membuat beban ekonomi negara yang tidak seimbang dengan manfaat yang diberikan. Namun, jika dijalankan dengan strategi yang lebih terfokus, program ini bisa menjadi titik awal transformasi besar bagi kesehatan dan ketahanan pangan Indonesia.
Referensi:
- https://www.metrotvnews.com/play/K5nC786g-makan-bergizi-gratis dalam-data
- https://liks.suara.com/read/2025/01/16/174122/polemik-di-balik-ambisi program-makan-bergizi-gratis-anggaran-jumbo-tapi-berpotensi-tak-tepat sasaran
- https://www.tempo.co/ekonomi/belanja-negara-2025-dialokasikan sebesar-rp3-621-3-triliun-kemenkeu-instruksikan-penghematan-anggaran 1197350
- https://apnews.com/article/indonesia-prabowo-subianto-free-meals children-mothers-213a04587203434f3f85950725e84a8b
- https://x.com/BetaEpsilonPhi/status/1884160108458131856.
Nama: Raka Nugraha Putra
NIM: J1201231064















Add Comment