Wisata

Ini dia Tempat Wisata di Lampung Berbasis Konservasi terbaik Di Indonesia

Tambling Wildlife Nature Conservation atau disingkat TWNC adalah hutan konservasi fauna liar dan binatang laut seluas 45.000 hektare yang berlokasi di ujung selatan pulau Sumatera. Daerah ini adalah daerah terpencil yang tidak ada transportasi umum tersedia.

TWNC atau Tambling Wildlife Nature Conservation berada di enclave Pengekahan Dusun Way Haru Bandar dalam Lampung Barat (salah satu enclave yang berada di TNBBS) adalah bentuk salah satu program dari Artha Graha Peduli.  Enclave sendiri berarti suatu wilayah yang telah dibebaskan untuk hunian manusia walaupun masih di dalam suatu kawasan Taman Nasional.  Di enclave Pengekahan, TWNC ini memiliki beberapa kegiatan :

  • Konservasi : diperuntukkan bagi satwa Mamalia Besar, dalam hal ini adalah Harimau Sumatera dengan Sumatran Tiger Rescue Centre yang memiliki fungsi sebagai tempat pemantauan, pemulihan, dan penglepasliaran.  Pihak TWNC juga telah melakukan kerjasama dengan Lembaga Harimau Dunia (Panthera) yang bercokol di New York.
  • Pariwisata : dengan menonjolkan kegiatan ecotourism terbatas.  Daerah yang digunakan untuk kegiatan wisata alam ini tidak lebih  dari 100 Ha yang antara lain daerah Belimbing 78 ha, Danau Menjukut 98 ha, Belubuk 8 ha, dan Tanjung Mas 5 ha.  Hal ini diperkuat dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.294/Menhut-II/2007 tentang pemberian hak pengusahaan pariwisata alam pada zona pemanfaatan TNBBS,
  • Pemberdayaan masyarakat : dengan melakukan sosialisasi arti pentingnya wilayah hutan di TNBBS, sosialisasi sampah organik dan anorganik, pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis, dan membantu untuk memperbaiki gedung sekolah di desa penyangga kawasan TNBBS.

Tidak hanya melulu konservasi, pariwisata alam, atau pemberdayaan masyarakat saja program yang ada di TWNC.  Melalui Artha Graha Pedulu juga, pihak ini telah bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional aka BNN untuk turut membantu merehabilitasi mantan pengguna narkoba.  Jadi, setelah dari tempat rehabilitasi narkoba, para mantan pengguna sebelum dipulangkan kembali ke rumahnya, akan dikarantina di tempat ini selama kurang lebih 3 bulan.  Mereka akan disebar ke dalam sub divisi pekerjaan yang ada di TWNC sebagai volunteer.  Setelah melewati ini dengan baik, mereka akan dipulangkan kembali ke masyarakat tempat mereka berasal.

Sejak 1996 TWNC dijalankan, dikelola dan didanai oleh Yayasan Artha Graha Peduli (Yayasan AGP), sampai tahun 2010, TWNC menjadi bagian dari program go-green AGP yang merupakan sebuah perjanjian kerjasama antara TWNC dan Yayasan AGP.

Merujuk pada Perjanjian Kerjasama antara Kementerian Kehutanan Republik Indonesia dan TWNC tertanggal 17 Juli 2008, TWNC yang terbentang seluas 45.000 hektare hutan merupakan bagian dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan seluas 365.000 hutan dan 14.082 hektare wilayah konservasi laut.

Dulu, banyak kegiatan ilegal terjadi di TWNC, seperti perburuan liar, pembalakan liar, penangkapan ikan liar dan penggunaan lahan yang tak terkontrol. Akibat dari aktivitas ilegal ini adalah :

  1. Penggundulan 20% hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
  2. Rusaknya 20.000 hektare terumbu karang alami akibat bom ikan

Komunitas Go-Green sebagai salah satu program Yayasan Artha Graha Peduli dengan aktivitas go-green telah dimulai sejak tahun 1998. Perbaikan area ini bisa dikatakan sangat lambat karena kondisi area yang sangat rusak akibat kegiatan ilegal yang telah terjadi. Berkat komitmen yang penuh AGP berhasil setidaknya untuk menstabilkan tingkat penggundulan hutan di daerah konservasi

Program dan usaha AGP yang telah dilakukan di TWNC adalah :[3].

  • Program Reboisasi, menanam lebih dari 10.000 pohon yang telah tumbuh sejak tahun 1998. Meliputi beberapa varietas endemik flora seperti Waru (Hibiscus tiliaceus), Bayur (Pterospermum javanicum) dan Nyamplung (Calophyllum inophyllum)
  • Melindungi hutan, dengan membantu Polisi Hutan Indonesia dengan bantuan personel dan peralatan dasar. Usaha personel AGP dalam menjaga dan melindungi konservasi TWNC tidak hanya melalui pendekatan keras, tapi juga melalui cara halus seperti memberikan kursus dan pelatihan singkat mengenai pengetahuan penting dan mendasar pada penduduk di sekitar TWNC
  • Program Konservasi dan Penyelamatan Hewan Terancam Punah, seperti penyelamatan Harimau Sumatera. Berdasarkan WWF/IUCN, pada tahun 2010 populasi Harimau Sumatera hanya tinggal 300-400 ekor. Dalam penyelamatan Harimau Sumatera, AGP dan TWNC bekerjasama dengan Phantera (sebuah LSM yang berfokus pada Kucing Besar) dengan melakukan misi menyelamatkan dan melindungi sebanyak mungkin Harimau Sumatera. Sejak 1998, AGP dan TWNC telah merlokasi setidaknya delapan Harimau Sumatera, lima di antaranya telah dilepas kembali ke habitatnya. Di area TWNC ada sekitar 30-40 Harimau Sumatera yang kadang-kadang tertangkap kamera. Pada 2011, telah terjadi kelahiran 3 anak harimau secara alami dari Harimau Sumatera yang telah diselamatkan di fasilitas penyelamatan Harimau Sumatera yang berlokasi di TWNC
  • Selain Harimau Sumatera, AGP dan TWNC juga sudah melepaskan hewan langka lainya termasuk trenggiling (Manis javanica) dan penyu (Chelonioidea) ke habitatnya masing-masing.
  • Program Pemberdayaan Masyarakat, untuk memberdayakan masyarakat/penduduk sekitar TWNC, agar dapat bekerja mendukung aktivitas go-green AGP dalam merevitalisasi hutan yang sudah digunduli.
  • Program spesial untuk memberdayakan mantan pecandu narkoba melalui Program Rehabilitasi Narkoba dalam aktivitas konservasi. Ini merupakan Program Kerjasama antara AGP-TWNC dan Badan Narkotika Nasional.Tujuan dari program ini adalah untuk mengurangi jumlah mantan pecandu yang kambuh dan untuk melibatkan mereka dalam kerja bersama AGP di TWNC atau area konservasi lainnya. Program ini menyatukan antara rehabilitasi narkoba dengan alam konservasi TWNC, hal ini untuk mendorong mantan pecandu menata kembali hidup dan gaya hidup mereka melalui kerja dan hidup di area konservasi TWNC dan melalui program eco-tourisme. Program ini telah dipresentasikan oleh pendiri Artha Graha Peduli, Tomy Winata, dalam pertemuan tahunan UNODC (United Nation on Drugs and Crime/Badan PBB yang mengurus Narkoba dan Kejahatan) 2013 di Vienna, Austria pada. Direktur Eksekutif UNODC, Yuri Fedotov memberikan apresiasi tinggi pada program TWNC ini. Dia dengan tegas menyatakan bahwa UNODC akan mendorong negara lain mengunjungi Tambling untuk mempelajari model dari Program Pasca Rehabilitasi Narkotik ini.
  • Program Eco Tourisme, berbasis keuntungan lingkungan dengan membatasi jumlah orang yang berkunjung dan menyediakan produk dan aktivitas yang ramah lingkungan seperti produk yang dapat terurai alami dan aktivitas menanam pohon sebagai program komplementer bagi pengunjung

Sekarang, masyarakat dapat melihat pengelolaan hutan liar yang baik, rantai makanan yang komplit yang ditandai dengan tidak adanya konflik harimau di TWNC, konservasi laut yang terlindungi dan terpelohara dan banyak lagi fasilitas lain di TWNC. Sebagai bukti, kondisi ini telah menarik banyak orang, institusi nasional dan internasional mengunjungi TWNC, di antaranya adalah UNESCO, IUCN, Bank Dunia, Phantera,  UNODC dan beberapa selebritis. Tahun 2012, Kylie Minogue mengunjungi TWNC ketika tur di Indonesia. Setidaknya 15 Duta besar dari beberapa negara telah mengunjungi TWNC ketika diadakan Festival Krakatau pada tahun 2009. Media-media utama yang mewakili nasional dan internasional telah berkunjung dan meliput, di antaranya The New York Time, International Herald Tribunes,  National Geographic, dan CCTV 4

Meskipun AGP telah menjalankan TWNC sejak 1998, masih banyak tantangan yang dihadapi. Di antaranya adalah mengatasi Mantangan (Meremia peltata) yang tumbuh dan menyebar secara agresif menutupi pohon dan bahkan menyebabkan matinya beberapa pohon. Selain itu, TWNC juga menghadapi erosi daerah pantai. Beberapa pantai di area TWNC telah tererosi sepanjang 20 meter. Hal ini merupakan bagian dari efek pemanasan global yang terjadi di daerah pantai. Akibat pemanasan global, Indonesia yang asalnya memiliki 17.508 pulai sekarang berkurang menjadi 17.400 pulau karena naiknya permukaan laut

Sebagai negara dunia ketiga yang telah diklasifikasikan dan ditunjuk sebagai negara paru-paru dunia, Indonesia menghadapi beberapa tantangan dan kesulitan dalam memelihara hutan untuk keuntungan seluruh umat manusia. Salah satu isu penting dan utama adalah pendanaan yang harus menjadi pemikiran semua negara, institusi dan individu yang peduli dan mendukung aktivitas go-green.

TWNC sebagai konservasi hutan terbaik di Indonesia telah menunjukan da menampilkan pada dunia bagaimana merevitalisasi dan memeliara hutan liar yang telantar, namun demikian, namun demikian usaha TWNC ini butuh dukungan dan bantuan yang besar dari semua stakeholder. Tanpa dukungan dan bantuan dunia, usaha yang telah dilakukan akan sia-sia karena habisnya dana dan masyarakat akan menderita dalam menyelamatkan aset bumi, Hutan.

Kawasan ini boleh terbilang Sorga wisata Di Lampung yang sangat menarik untuk dikunjungi, namun sayang, tidak semudah dan semerta merta kita dapat langsung menjamah lokasi ini, pasalnya kawasan tersebut merupakan kawasan konservasi yang masuk dalam kawasan TNBBS dan harus mengantongi ijin terlebih dulu dari BKSDA setempat serta dari Perusahaan selaku pengelola.

 

About the author

Redaksi TabikPun

Add Comment

Click here to post a comment

Tinggalkan Balasan

IKLAN

IKLAN

DAPATKAN PROFIT JUTAAN RUPIAH

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

 IKLAN

IKLAN

 IKLAN

IKLAN

 IKLAN

IKLAN

 IKLAN

IKLAN

 IKLAN

IKLAN

 IKLAN

IKLAN

 IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

%d blogger menyukai ini: