Feature Nasional Wisata

Mengejar Senja ke Sawarna

Sawarna, sebuah desa di Pesisir Selatan Banten yang terkenal dengan pantai pasir putihnya, ombak besar, dan atmosfernya yang masih alami. (Ist)

Tabikpun.com – Pukul lima pagi, Bogor masih terlelap dalam kabut tipis. Jalanan di sekitar Tugu Kujang sepi, hanya beberapa kendaraan melintas dengan lampu menyala. Saya menyesap kopi terakhir di gelas sebelum naik ke mobil yang sudah menunggu.

Tujuan saya kali ini adalah Sawarna, sebuah desa di Pesisir Selatan Banten yang terkenal dengan pantai pasir putihnya, ombak besar, dan atmosfernya yang masih alami. Sebelum memulai perjalanan, saya memastikan semua perlengkapan sudah siap.

Ransel berisi pakaian ganti, kamera, power bank, dan beberapa camilan untuk perjalanan. Saya juga memeriksa kondisi mobil dalam keadaan baik. Persiapan ini penting karena perjalanan ke Sawarna memakan waktu cukup lama dan jalannya tidak selalu mulus.

Saya memutuskan untuk tidak menyetir sendiri. Seorang supir bernama Pak Aji akan mengantarkan saya ke Sawarna. Ini pilihan yang tepat karena saya bisa lebih santai menikmati perjalanan tanpa harus memikirkan jalur atau kondisi jalan. Pa Aji adalah supir yang sudah menemani keluarga saya sedari lama.

Dari Bogor, kami memilih rute melalui Tol Bocimi yang baru saja dibuka beberapa waktu lalu. Jalan tol ini memangkas perjalanan menuju Pelabuhan Ratu, titik yang harus dilewati sebelum mencapai Sawarna.

Sebelum memasuki tol, kami sempat mampir ke minimarket untuk membeli beberapa bekal air mineral, roti untuk menghalau mual di perjalanan yang berliku nantinya. Saat memasuki Sukabumi, kabut masih menggantung. Mobil terus melaju melewati perbukitan dan sawah-sawah yang mulai disinari matahari pagi.

Pak Aji bercerita bahwa jalan ke Sawarna dulu sangat sulit ditembus. “Dulu mah jalan nya jelek dek kalo mau kesana, jalannya meliuk liuk juga” katanya sambil terkekeh.

Perjalanan menuju Pelabuhan Ratu memakan waktu sekitar tiga jam. Kami sempat berhenti sejenak di sebuah warung kopi dekat pintu masuk kota. Saya memesan kopi hangat dan sedikit sarapan.

Pemilik warung, seorang ibu paruh baya, tersenyum ramah. “Mau ke mana, neng?,” tanyanya. “Ke Sawarna bu,” jawabku. “Oh ke Sawarna, semoga selamat sampai tujuan ya neng,” pesannya sebelum kami melanjutkan perjalanan.

Setelah mengisi perut, kami kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan ke Sawarna. Dari Pelabuhan Ratu, jalannya semakin menantang. Kami melewati perbukitan dengan jalan yang berkelok-kelok, naik turun seperti roller coaster alami.

Di beberapa titik, saya bisa melihat laut lepas di kejauhan, ombaknya berkilau diterpa matahari. Lima jam setelah meninggalkan Bogor, akhirnya kami tiba di Sawarna. Saya turun di parkiran dan harus berjalan kaki melewati jembatan gantung untuk mencapai penginapan yang sudah saya pesan.

Penginapan yang saya pilih sederhana tapi nyaman. Dari kamar, saya bisa melihat hamparan laut lepas yang biru. Suara ombak yang bergulung-gulung seolah memanggil untuk segera turun ke pantai. Sawarna memiliki beberapa pantai utama, seperti Pantai Tanjung Layar dengan dua batu besar ikoniknya, Pantai Legon Pari yang lebih sepi, dan Pantai Karang Taraje yang terkenal dengan ombaknya yang menghantam tebing batu.

Saya memutuskan untuk menjelajahi Pantai Tanjung Layar lebih dulu. Saat berjalan di pasir putih yang hangat, saya melihat sekelompok wisatawan sedang bermain di pantai. Ada juga beberapa orang yang duduk di bawah payung besar, menikmati deburan ombak.

Saya memilih untuk duduk di atas batu karang, menikmati pemandangan dan suara ombak yang menghantam tebing. Waktu berlalu tanpa terasa. Matahari mulai merunduk ke cakrawala, mewarnai langit dengan gradasi jingga dan ungu. Saya duduk di atas batu karang, menikmati pemandangan.

Beberapa wisatawan lain juga berkumpul di sekitar, mengabadikan momen dengan kamera mereka. Saat malam tiba, saya kembali ke penginapan. Suara ombak masih terdengar dari kejauhan, memberi rasa damai setelah perjalanan panjang dari Bogor.

Keesokan harinya, saya bangun lebih awal untuk menikmati sunrise. Pantai Legon Pari menjadi pilihan saya. Saya juga mengunjungi Gua Lanang, sebuah gua kecil yang terletak di tepi pantai. Dari dalam gua, saya bisa melihat ombak besar menghantam tebing. Suasananya dramatis, dan saya duduk di dalam gua, menikmati momen itu.

Setelah dua hari di Sawarna, saya memutuskan untuk kembali ke Bogor. Perjalanan pulang terasa lebih ringan, mungkin karena kenangan indah yang saya bawa. Pak Aji, Supir saya datang untuk menjemput dan kembali bercerita tentang pengalamannya dahulu ke Sawarna.

“Dulu rasanya kalo ke sini cape dek, jalannya belum bagus kaya sekarang. Udah kaya ujian kesabaran, tapi begitu sampai semua lelah terbayar,” katanya. Saya mengangguk, sambil menatap pemandangan luar jendela.

Sawarna bukan sekadar destinasi wisata. Ini adalah tempat dimana waktu terasa lebih lambat, dimana ombak dan angin laut menjadi teman setia, dan dimana setiap senja adalah pertunjukan alam yang tak terlupakan. Perjalanan ini mungkin akan berakhir, tetapi kenangan dan cerita dari Sawarna akan selalu ada diingatan.

Sawarna telah memberikan saya lebih dari sekadar pemandangan indah, tapi juga memberikan saya cerita, rasa, dan sedikit jawaban tentang hidup. Saya belajar bahwa perjalanan bukan hanya tentang mencapai tujuan, tapi juga tentang prosesnya.

Setiap kilometer yang ditempuh, setiap pemandangan yang dilihat, dan setiap momen yang dinikmati adalah bagian dari cerita yang akan selalu dikenang. Sawarna bukan sekadar tempat, tapi sebuah pengalaman. Ia mengajarkan saya untuk lebih menghargai alam, menikmati setiap detik, dan menemukan kedamaian dalam kesederhanaan.

 

Nama   :               Keysha Awalya Sanjaya

NIM       :               J0401231335

Prodi     :               Komunikasi Digital dan Media

About the author

Redaksi TabikPun

Add Comment

Click here to post a comment

Tinggalkan Balasan

IKLAN

IKLAN

%d blogger menyukai ini: